Tapi di balik daftar snack itu, ada ironi yang pahit. Mahasiswa yang menyiapkan seminar proposal, seminar hasil, hingga munaqasyah harus menguras tabungan, berhutang, bahkan menahan lapar demi memenuhi tuntutan birokrasi yang makin mahal. Uang kas, biaya jilid, print, toga, hingga konsumsi dosen semua ditanggung oleh mahasiswa. Sementara kampus sibuk memastikan Le Mineral-nya tetap dingin dan buahnya tetap segar.
Inilah potret sistem pendidikan yang terbalik. Ketika “air mineral” lebih diperhatikan daripada air mata mahasiswa yang kelelahan mencari biaya. Ketika daftar snack lebih jelas daripada jadwal bimbingan. Ketika roti Naraya menjadi simbol ketimpangan karena roti itu hanya mampu dinikmati mereka yang duduk di kursi penguji, bukan mereka yang berjuang di kursi ujian.
Padahal, di balik setiap sidang munaqasyah, ada mahasiswa yang semalam suntuk bergulat dengan revisi dan cemas memikirkan uang untuk jilid naskah. Ada orang tua di kampung yang menabung bertahun-tahun agar anaknya bisa sampai di tahap itu. Tapi semua pengorbanan itu seakan tidak penting yang penting, snack dosen sesuai merek.
Kampus seharusnya menjadi tempat menanam akal sehat, bukan tempat memamerkan formalitas.
Sebab, pendidikan yang sejati tidak diukur dari kualitas snack di meja sidang, tapi dari seberapa adil ia memperlakukan mereka yang berjuang menuntut ilmu.

Posting Komentar